Aku terdiam bertemankan cahaya lampu yang temaram.
Kusandarkan punggung ini sejajar tembok rumah yang berwarna hijau. Menerawang
jauh sambil mencoba meluruskan kaki. Dua tahun sudah kini aku tak berjumpa
dengan ibu tepat d hari ibu. Bagiku semua hari itu sama saja, tak ada bedanya.
Jika tanggal 22 Desember ini umumnya adalah hari Ibu, itu berarti pengingat
untukku sudah sejauh mana baktiku padanya?
Ibu, kuharap kau tak bosan dengan celotehanku setiap hari
yang seringkali mungkin tak penting. Aku yang selalu mengganggumu dengan pesan
singkat yang hanya bertuliskan “ibuuk”. Komunikasi
yang terfasilitasi koneksi sinyal provider maupun internet. Cukup untuk sekedar
memberi kabar hari ini padanya. Cukup untuk menanyai kabar rumah padanya.
Komunikasi yang berbatas jarak seringnya menjadi pembatas leluasanya kita bercengkerama.
Terkadang, aku merindukan saat-saat aku masih duduk di
bangku SD, SMP, bahkan SMA dahulu. Aku bisa leluasa bercerita tentang
hariku saat itu. Cerita teman, sahabat,
guru, pelajaran, kegiatan, semuanya bia kuceritakan tanpa jeda. Kini semua
berbeda, hanya sambungan telepon dan internet yang menyambungkan komunikasi
kita.
Keterbatasan komunikasi bukan menjadi pengahalang , bukan
juga masalah yang utama. Sejauh apapun jarak kita pada ibunda, tak akan jadi
penghalang dalam sebuah keluarga. Aku ingin membangun kedekatan batiniyah
melalui do’a. Aku ingin bisa selalu mendo’akannya, mendo’akan kesehatannya,
aktifitasnya, dan sega hal tentangnya. Hingga kedekatan itu kudapatkan.
Ibu, kau selalu bilang kau tak pernah lewat satupun
mendoakan putra putrimu. Sedang aku, mungkin seringkali lalai. Ibu, maaf jika selama
ini selalu merepotkanmu, belum berbakti padamu. Maaf, karena aku belum bisa
menajdi teladan untuk adik-adikku. Maaf sampai saat ini ataupun nanti
pengorbananmu tak dapat aku ganti.Maaf jika permintaanmu belum terpenuhi, yaitu
aku harus berbakti.
Jujur... Aku, perempuan yang kelak juga akan menjadi ibu
jika Allah mengizinkan. Aku ingin belajar banyak darimu, kalau perlu semuanya.
Aku masih ceroboh dan lebih teledor, malu jika dibandingkan denganmu. Akan
tetapi aku yakin aku bisa menjadi ibu yang baik sepertimu. Menjadi tempat curahan
hati seluruh putra putrinya selepas pulang sekolah. Menjadi koki terhandal yang
tak ada tandingannya di rumah. Menjadi manajer keuangan, sampai-sampai menjadi
alarm alami tiap pagi hari. Ajari aku menjadi ibu, sepertimu.


