Sesuatu yang melayang meski tak punya sayap
Ada yang menerangi tapi juga membuatnya gelap
Sajadah panjang, permadani yang beratapkan langit
Sebagai kuasa-Nya berpijak, melangkah, telusuri hidup
Mata yang memandang bagai hamparan luas tak ada batas
Jika hati yang melihat hanya titik-titik kecil di antara
yang kecil
Sajadah panjang, permadani yang beralaskan tanah
Sebagai ketentuan-Nya bersandar, berlari, teduhi hati
Meskipun kehampaan takkan membuatku diam
Hingga ujung waktu menutup rapat mulutku
Hingga saatnya tiba menutup rapat mataku
Menuntun langkah kembali pada-Nya
Akhir yang menjadi awal duniaku yang penuh warna
Ku menunggunya... hingga hatiku puas...
Terbang tinggi melayang...
Butiran bening ini adalah air mata
Yang menjadi tangis terisak
Bukan karena sedih meratap... hanya...
Di sudut remang malam ini ada yang merasuk jauh...
Sangat dalam begitu dalam...
Rabb aku bukan takut akan kepastian-Mu
Aku hanya membenci diri ini
Yang tak pernah lurus dengan seribu nasihat dalam kitab-Mu
Engkaulah yang lebih tahu baik buruknya aku
Kesepian ini takkan merapuhkan jiwaku
Hingga ajal menghapus segalanya
Hingga maut menjemput kekalahan yang tertunda
Ku merindukannya... di sini...
Saat-saat menghadap-Nya
Kan ku katakan di setiap bintang yang kulewati
Begitu berartinya Engkau... untukku...



