Minggu, 16 November 2014

Sebenernya cuma Curhat aja sih

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar


 16 November 2014
Ini adalah ruang bebasku untuk menulis, aku bebas berekspresi  dan bermimpi. Tapi akhir-akhir ini aku merasakan ketakutan. Aku takut untuk mulai bermimpi lagi. Aku takut merangkai sebuah alur itu lagi. Tahu kenapa? Kadang aku merasa takut gagal dalam meraihnya, takut tidak tahu apa-apa. Mungkin teorinya itu hal biasa, aku harus bangkit dari rasa takutku sendiri. Tapi kenapa sulit sekali rasanya? Rasanya pengen diem di pojokan, duduk sambil nunduk terus tiba-tiba nangis nggak tau harus ngapain. Pasti kalian pernah juga ngalamin yang kaya gitu kan? Tapi tapi aku belum nemuin solusinya. Emang sih, semangat itu haikikatnya  naik turun, pasang surut kaya air laut. Intinya cuma mau bilang itu aja sih.

Jumat, 14 November 2014

Paniknya itu di Sini

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar


Hari ini, di kontrakkan lagi heboh banget. Asal kalian tau aja, Bogor lagi musim ujan. Tahu kan, secara Bogor kota hujan, gimana nasibnya kalau musim ujan, luber. Doain aja enggak akan sampai luber, kasihan Jakarta. Jadi gini ceritanya, sore ini aku masih bebenah kamar tiba-tiba temenku teriak pakai bahasa Jawa. "Awas, ati-ati Ros. ana ula mlebu kamare awak dhewe," teriak Eka pada Rosita yang sedang tidur di kamarnya. Refleks, aku yang di kamar juga merinding disco denger ada ular mampir rumah kita. Rosita yang tengah tiduran langsung melompat berdiri di atas tempat tidur berjaga kalau ular tiba-tiba menyerangnya. Aku, Rosita, Eka akhirnya sembunyi di kamarku. Kita bertiga panik bukan main meskipun masih sempat bercanda. Saat itu kita baru sadar keadaan kita berempat di kontrakkan. Langsung kita telpon teman kita masih di kamarnya, intinya jangan sampai ularnya masuk kamar dia, terserah mau gimana caranya. Kembali lagi kita bertiga masih panik di kamarku. Aduh namanya juga ular, kita nggak tahu harus digimanain itu ularnya. Ya, sekitar 15 menitan kita masih panik, keluar masuk kamar, naik kursi, ngintip-ngintip keberadaan ularnya. Akhirnya kita menyerah dan langsung lapor bapak kontrakan. Bapak kontrakan langsung bawa senjata tongkat bambu yang biasa untuk jualan bandrek keliling secepat kilat menuju TKP. Karena saking paniknya, kita bertiga cuma berani ngawasin dari luar rumah, glek. Bapak kontrakan sibuk mencari ular itu, agak lama, cling dan akhirnya ketemulah di bawah lemari. Bapak kontrakan keluar, aku, Ros, Eka bertanya-tanya ke mana perginya bapak. Tak berapa lama kemudian bapak kontrakan kembali dengan rombongan sekitar 5 orang bapak-bapak tetangga sebelah, katanya sih ada pawang ularnya. Lanjut berburu ular lagi, bapak kontrakan memukul ularnya, aduh nggak tega lihatnya. Beresss, ularnya udah nggak ada. Kemudian Eka masuk toilet untuk mencuci pakaian. Apa yang terjadi lagi, Eka kembali teriak lagi. Katanya ada ular lagi! Nah! Udah mirip kebun binatang aja nih pikirku. Kita panggil lagi lah bapak kontrakan untuk berburuular lagi. Persis, bapak kontrakan dan rombongannya langsung menuju TKP. Ularnya berhasil dibasmi lagi. Alhamdulillah, semoga ular ataupun hewan buas lainnya tidak mampir lagi.
Sekian.

Bogor 14 November 2014

Kamis, 13 November 2014

Sebait Kata yang Tertunda

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar


Inayatul Fauziah...
Ketika kematian adalah suatu hal pasti yang telah tercatat di Lauhul Mahfuz sana. Tinggal kita yang memilih, melalui pintu mana kita menghadap-Nya kelak.
Belum banyak cerita yang tertorehkan dalam perkenalan ini. Pertemuan yang singkat ini, syarat makna. Memukulku untuk kembali menata diri, mengingatku akan kehidupan yang kekal abadi. Membuatku berpikir berjuta kali nikmat yang telah diberikan padaku. Lihatlah sekarang, para Kreator Peradaban yang dulu kamu tunggu sudah sampai di sini. Dulu kau yang selalu bersemangat untuk menyambutnya. Seringkali kamu berceloteh tiap pulang rapat divisi. Kini perkenalan ini tak lagi bersamamu. Semoga kamu tau, adik-adikmu di sini ikut mendoakanmu. Mereka mungkin tak mengenalmu, tapi aku yakin, doa mereka tulus untukmu.

Bagian Kecil dari Laskar Gunung Berasan

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Aku mengakuinya, aku anak desa. Aku tumbuh jauh sekali dari hiruk pikuk jalanan kota. Setiap hari aku bebas menghirup udara bersih tanpa terkontaminasi polusi kendaraan. Alam menyuguhiku dedaunan hijau yang tumbuh subur di depan kediaman orang tuaku. Kicau burung yang mengalun acap kali kubuka jendela kamar kala itu. Hamparan sawah yang terbentang luas tak jauh dari tempat tinggalku. Bukit-bukit yang menjulang melambai seolah mengajakku untuk sesekali menyambanginya. Membuatku untuk terus mengucap syukur yang mungkin terlupa kala itu.
Dalam kurun waktu kurang lebih 12 tahun aku bersahabat dengan alam di sebuah desa kecil, Lamuk namanya. Tinggal di bawah kaki gunung berasan dan menyatu dengan alam sekitar. Aku pun tak tahu, setiap kali ada yang bertanya kenapa bisa aku tinggal di desa yang jauh seperti itu. "Hanya ikut orang tua saja", jawabku kala itu. Memang benar, tugasku hanyalah ikut orang tuaku di manapun mereka tinggal. Ayahku 5 tahun lebih awal sebelum aku dilahirkan sudah menginjakkan kaki di desa itu, tepatnya ketika belum sah memperistri ibu. Ayah dan Ibu adalah dua insan yang dahulunya bertetangga di Secang, Magelang. Kemudian mereka pindah rumah di desa Lamuk, Kaliwiro, Wonosobo. Sebuah desa yang sempat membuat ibuku kaget untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sana ketika pertengahan tahun 1994. Dengan kondisi medannya dan keadaan yang belum teraliri arus listrik kala itu.
Mungkin ayah sebagian kecil yang ditugaskan menjadi agen perubahan di desa itu. Pikiran yang agaknya berlebihan ketika aku berpikir kembali, kenapa aku harus tinggal di desa ini? Lagi-lagi pikiran nakalku selalu bertanya seperti itu. Apalagi keliaranku semakin menjadi setelah aku merasakan dunia pendidikan sekolah dasar tiga tahun pertama di rumah kakek dan nenekku. Merasakan berjuang merebut bangku sekolah dasar yang sulit didapat apalagi dengan umurku yang jauh masih kurang saat itu. Bersaing dengan anak-anak terpilih dari berbagai desa di keamatan Secang itu. Tiga tahun berpisah dengan orang tua membuatku merasakan rindu tinggal bersama mereka. Kelas 4 terkabul permintaanku untuk kembali berkumpul dengan ayah dan ibu. Namun, aku masih berpikir, aku masih harus tinggal di desa itu lagi.
Tinggal di desa itu, ada yang terasa jauh sekali perbedaannya. Dari segi struktur alam sampai struktur sosial teman-temanku di sekolah dasar. Dulu sempat ada sedikit sesal, ketika tak lagi bertemu dengan teman-teman di Secang. Kemudian aku harus bergabung lagi dengan teman-temanku di desa. Menjalani rutinitasku seperti dahulu di desa itu. Bergaul dengan teman-teman kecilku dahulu, membentuk sebuah kelompok sosial yang baru. Ada hal yang teramat aku senangi ketika itu, aku bisa bebas bermain di alam sesuka hatiku. Hal yang tak pernah bisa kulakukan ketika masih di Secang. Aku bebas mendaki gunung, melintasi sawah, masuk keluar hutan, berenang di sungai, sip mirip banget sama bolang yang ada di tv dulu. Bahkan sempat aku berharap ada crew "Si Bolang" mampir ke SDku.
Aku "terperangkap" di desa itu sampai aku lulus SMP. Kemudian kami pindah rumah di dekat SMA tempat aku sekolah. Kebetulan ayah pindah tugas dan setelah dipikir memang lebih hemat ketika kami sekeluarga pindah daripada aku haru kos dan berpisah lagi dengan orang tuaku. Kemudian kami mulai bersosialisasi lagi dengan lingkungan yang baru.
Ada hal lain yang jelas terasa, yang membuatku berpikir keras. Bukan tanpa alasan apa-apa Allah mengizinkan aku, adik-adikku, ayah, ibu tinggal di desa. Banyak pelajaran yang aku ambil dari setiap prosesnya. Dan mungkin setelah pindah rumah inilah aku baru menyadarinya. Aku belajar arti kesederhanaan dari orang-orang yang itnggal di sana. Aku belajar arti keprihatinan tinggal di sana. Aku belajar bersyukur dengan semua yang dimiliki. Aku belajar untuk hidup mandiri tanpa harus mengenal kata manja. Aku harus bertahan di saat aku jenuh sekali. Aku belajar merawat alam, menikmati, dan mensyukurinya. Dari itu semua sedikit demi sedikit aku paham proses hidup ini berjalan.
Ah, kenapa baru sekarang aku menyadarinya?
 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review