Sabtu, 30 Agustus 2014

Adikku Sang Kreator Peradaban

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar


Adikku sang kreator peradaban, kalian adalah yang kami tunggu. Selama berbulan-bulan kakak-kakakmu mempersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk menyambutmu. Setiap hari mereka menantikan sang kreator masa depan menginjakkan kaki di kampus rakyat ini.
Adikku sang kreator peradaban, tibalah masanya ketika kakimu menjejakki sudut kehidupan kampus. Inilah masa transisi dari dunia sekolah menengah atas menuju kehidupan perkuliahan. Kehidupan baru di dunia yang baru. Merasakan hangatnya bertemu teman seperjuangan dari berbagai pelosok negeri. Menghirup aroma percampuran budaya di setiap lorong asrama. Bertemu ribuan kepala dengan berbagai macam ide-ide yang brilian.
Adikku, tak sedikit darimu rela tinggal berjauhan dengan orang tuamu. Belajar mengatur hidup agar menjadi pribadi mandiri. Kami percaya orang tuamu pasti menaruh harapan besar di pundakmu. Harapan yang sama yang akan dilakukan oleh setiap orang tua di dunia. Berharap buah hatinya bisa menggapai cita-cita yang diimpikannya. Lebih dari itu semua, orang tua kalian pasti menginginkan putra putrinya menjadi pribadi pandai dalam segala hal. Pandai dalam akademik, pandai bertata laku yang baik, pandai bersosialisasi, pandai memilah mana yang baik dan buruk, pandai memilah mana yang bermanfaat atau tidak, kemudian pandai mengatur waktu dan kehidupannya kelak.
Adikku, sekarang kalian sudah melewati masa pengenalan kampus mahasiswa baru. Hal yang sama pula telah kami lewati satu tahun lalu. MPKMB yang terlaksana tiga hari di kampus IPB tercinta ini. Sudah barang tentu kalian tak asing lagi dengan kakak skeeper dan kakak komdis. Mungkin kalian beranggapan kakak skeeper itu ramah dan baik, memang benar, itu tidak salah. Dan kakak komdis itu jarang senyum bahkan mungkin terlihat kaku, ya memang benar, itu tidak salah juga. Dalam sebuah keluarga skeeper itu ibaratnya ibu dan komdis itu ibaratnya ayah. Orang tua selalu mempunyai harapan agar buah hatinya bisa menjadi pribadi yang baik. Sama halnya dengan skeeper dan komdis, mempunyai satu tujuan yang sama, hanya mungkin caranya berbeda.
Adikku mahasiswa baru angkatan 51, yang semua orang menyebutmu Kreator Peradaban. Kami harap kalian tak salah paham akan kedatangan kami saat-saat di penghujung acara tiap harinya. Bukan maksud hati mengusik ketenangan, kenyamanan duduk manismu. Ketika pembicara menyampaikan materi, kurasa kalian akan mudah mendapati kami. Berusaha jeli memastikan tak ada yang tertidur ataupun asik berceloteh dengan kawannya.
Adikku, jika yang lain mungkin mudah mengutarakan perhatiannya terhadap kalian. Mungkin cara kami ini adalah cara memeluk kalian dari jauh. Ingat, seorang ayah tak akan rela buah hatinya terluka sedikitpun. Maka dari itu, mungkin perjalananmu dari asrama menuju Gedung Graha Widya Wisuda sedikit terusik oleh kami yang sering mengingatkan ini dan itu. Adikku, semua ini bukan karena kami tak suka dengan kalian, namun ini cara kami mengutarakan perhatian kepada kalian.
Adikku, semoga kalian bisa bijak menghadapi semua yang terjadi. Kini kalian dan kami sama-sama mahasiswa yang sedang berjuang menuntut ilmu di Insititut Pertanian Bogor. Berusaha mewujudkan impian dan cita-cita kita masing-masing. Mengemban amanah dan harapan orang tua. Kita belajar bersama menjadi insan yang senantiasa bisa belajar dari setiap peristiwa. Pribadi yang berkarakter di manapun kita berada hingga mampu membedakan jalan mana yang harus diambil dengan keputusan bijak. Selamat berjuang kreator peradaban, bahteramu kini telah mengembangkan layarnya untuk mengarungi hantaman ombak di samudera. Mari bersama berjuang meng-create peradaban yang lebih baik.

Minggu, 03 Agustus 2014

Nemu Buku di Lemari

Diposting oleh Anonim 0 komentar

Inget buku ini?
Haha, buku yang didapet 2 tahun yang lalu di IKJ ketika Final FFPI. ^.^
Akan kuceritakan bagaimana aku bisa terdampar di dunia perfilman yang awalnya aku tak pernah meliriknya.
Sekarang menjadi salah satu mimpiku, script writer, creative producer, atau masuk production house. Aamiin

Sabtu, 02 Agustus 2014

Bertahan Sejenak

Diposting oleh Anonim 0 komentar
Ini tanggal berapa? 3 Agustus
apaa?
Kalaulah diri ini bisa menghentikan bumi beredar dari peredarannya sejenak saja. Ingin kunikmati hari ini, mengulang kenangan yang pernah terjadi. Singgah sejenak mengumpulkan mimpi yang dulu sempat terangkai.
Ya di sini, di tempat ini pernah kuceritakan tentang mimpiku. Mimpi yang membawaku berkembara ke daerah orang. Di sini, di ruang ini menyimpan berjuta kenangan. Di sini, di bangku ini kuceritakan semua mimpiku pada ibu, pada ayah. Aku masih ingat kala itu. Tatkala aku mulai mengukir seluruh angan dan asaku.
Aku ingin mengenangnya sebentar saja. Mengumpulkan energi untuk kembali berjuang. Kembali merajut asa dan impianku. Aku ingin bertahan sejenak sebelum semua kembali berkobar membakar emosi. Aku ingin menikmati hari ini, aku ingin mengobati kerinduan ini.

Jumat, 01 Agustus 2014

Salam Negeriku

Diposting oleh Anonim 0 komentar


Salam airmata, negeri tercinta
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini.
Mendengar desau suara darah yang sama, menyayat-nyayat cakrawala abu.
Siapakah yang membakar asa dan cinta yang dulu setia kita pelihara?
Sementara secara tiba-tibakita gadaikan kemanusiaan kita pada sesuatuyang bernama kebiadaban
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini.
Menyaksikan jutaan jiwamengigau dan mencabk-cabik saudara sendiri, sementara jutaan jiwa lainnya jadi pengungsi jeri. Mereka makan lapaar, mereka minum haus.
Darah, airmata mereka tumpah, menjelma sungai-sungai perih di sepanjang sejarah.
Aku memeluk merah putih, berdiri di sini, menatap para pemimpin tercintaku.
Kini kata-kata mereka hampir angin.
Mereka cari nurani di balik kursi.
Aku bertanya-tanya, apa mereka tahu di mana menempatkan Tuhan dan rakyat dalam diri serta diskusi-diskusi itu.
Bisakah mereka istirah dari perseteruan, karena waktu telah semakin debu. Kota-kota berteriak parau, merdeka!
Masih kupeluk merah putihku, berdiri di sini.
O, para ulama, mata air kesejukan kami, yang menatap dengan mata langit.
Dari hati yang khusyudan mulut mereka akan keluar mutiara yang bercahaya.
Tapi ayat-ayat telah dibakar dalam tanah air yang api.
Mereka menangis, airmatanya menjelma curah hujan di pekarangan negeri.
Lantas samar mata nyeriku melihat orang-orang kabut bergentayangan.
Tak ada tanda sujud, tiada izzah, tetapi mereka kenakan jubah ulama kami.
Aku pun tetap berdiri di sini, masih memeluk merah putih.
Kutatap mata hitam para kanak-kanakdi pengungsiankumuh dan kutemukan diriku terhempas dalam lalu.
Kembali pada masa kecil yang binar di negeri damai.
Hati-hati berpelukan, bertebaran senyum, uluran tangan, hasil tanah melimpah.
Kebahagiaan seperti kupu-kupu yang kembara di taman-taman kasih.
Salam cinta negeriku airmataku, salam airmata negeriku cintaku.
Kini di atas puing-puing luka yang meningg, sambil berdirimemeluk merah putih, kutepis kemungkinan pergi.
Tak akan ada perpisahan itu.
Suatu hari jiwa akan mencerahkan segala yang telah darah.
Jutaan tekad, daya dan doa akan membelai, mengusap wajah duka. Dan para pemimpin, para ulama, rakyat yang lara, kita akan tumbuh dewasa disebabkan hikmah. Entah kapan, kuharap kita segera kembali dari pengunsianpanjang yang melelahkan ini. Membangkitkan negeri cinta kita sekali lagi, sambil tak henti berzikir.

                                                                                                                                Bunda Helvy Tiana Rosa 2001

“Andai saja Kau Tahu, Bung”

Diposting oleh Anonim 0 komentar
Andai saja Kau Tahu, Bung

Wonosobo-Magelang itu Beda Tipis

Diposting oleh Anonim 0 komentar
Brrr sama-sama dingin... ~*_*~
Sama-sama di kaki gunung...

Bedanya air di Wonosobo lebih dingin, berasa air kulkas,,,

Kanaaaa

Diposting oleh Anonim 0 komentar
Anak kecil itu polos, apa adanya
Kanaka : (nonton tom and jerry sendirian di depan TV, tiba-tiba masuk kamar) “Takuut”
Bapak : “Takut apa dek?”
Kanaka : “Kucingnya nakal” -_-
Anak kecil aja tahu, bisa bedain mana yang nakal dan mana yang enggak.

Waktu yang Bergulir Terasa bagai Jeda

Diposting oleh Anonim 0 komentar

Ramadhan ini mungkin menjadi momen ramadhan yang berkesan. Ramadhan yang mengajarkanku banyak hal. Hening, tangis, tawa, canda, duka... Mungkin alur kehidupan ini memang harus seperti itu. Mungkin aku saja yang tak bisa bijak dalam menyikapi itu. Atau mungkin saking batunya saja diri ini.
Di sudut hening malam itu, kurasakan sedikit memar dalam hati ini. Allahu Akbar Allahu Akbaar Allahu Akbar, takbir yang kusebut dalam hati itu menyatu dalam kedukaan yang begitu mendalam. Menguatkan hati, menguatkan jiwa, dan menguatkan raga. Allah, ketentuan-Mu pasti, aku tak bisa mengelak lagi hal itu. Waktu yang bergulir ini bagai jeda yang membuat diri ini sulit untuk memahami.
Allah, aku rindu pada-Mu, inikah awal jalan saat-saat menghadap-Mu? Ketika kematian adalah suatu hal pasti yang telah tercatat di Lauhul Mahfuz sana. Tinggal kita yang memilih, melalui pintu mana kita menghadap-Nya kelak. Allah, salahkah jika air mata yang kembali hanyut di kala hati ini sendiri? Bukan karena aku tak dapat mengikhlaskannya, namun ada penyesalan dalam aliran air mata itu.
Lagi-lagi aku merasakannya hingga detik ini. Waktu yang bergulir terasa bagai jeda, membuat hening yang tercipta untuk berpikir. Ramadhan ini, semoga menjadikan kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya, pribadi yang senantiasa bisa memperbaiki dirinya sendiri. Peristiwa ini semoga menjadi pelajaran yang berarti pada kehidupan kita. Mengajarkan kita bagaimana hakikat ikhlas itu teraplikasikan sebagaimana mestinya. Mengajarkan kita pada pengorbanan yang sesungguhnya.
Hening ini lagi-lagi terasa, menyayat dalam hati yang terdalam. Begitu kecilnya raga ini, begitu rapuhnya jiwa ini. Kuakui berkali-kali aku menerawang jauh dalam sudut pikiranku ketika mengetikkan kata per kata ini. Entah apa yang sedang kucari, sayyidul istighfar yang kuucap menemani dalam keheningan malam ini.

Wonosobo, 2 Agustus 2014
~Bogor, 17 juli 2014
 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review