Jumat, 29 Mei 2015

Ke mana Aku akan Berpulang?

Diposting oleh taranurfathiw 1 komentar
Rumah?
Satu kata yang menggelitik sanubariku di hampir tengah malam ini. Terhempas dari seluruh keyakinan yang membuatmu jauh terasa nyaman dibuainya. Aku yang sedari tadi tak mengerti apa artinya pulang. Bisu menjadi pilihan, tak ada yang lain. 
Apa yang kau pikirkan tentang sesuatu yang mereka sebut itu pulang? Apakah kembali? Apakah tempat untuk kau mengawali kisahmu dengan segala keluh kesah? Lalu apa yang kau sebut itu rumah?
Jika rumah adalah tempat kita kembali, maka akan kuceritakan pada dunia semua. Akan kukabarkan semuanya bahwa aku sudah memiliki banyak rumah, tempatku kembali.
Jika rumah adalah persinggahan abadi sebuah keluarga. Maka, beribu ucap terima kasih kepada ibu dan bapak yang telah berkenan membuatnya nyaman untuk berpulang.  Membawa segudang peristiwa yang siap kuhadirkan pada mereka seraya sarapan pagi, minum teh, atau bahkan saat bercanda di sela aktivitas mereka.
Apa kau pernah berfikir? Tentang mereka yang tak mempunyai rumah, untuk berpulang? Lalu pada siapa yang mereka sebut rumah? Pada siapa yang mereka sebut itu keluarga? 
Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Sediakan “rumah” bagi mereka untuk berpulang. Karena pada hakikatnya hidup kita di dunia ini adalah untuk saling berbagi dan memberi. Kalu bukan mereka yang meminta tolong, persilakan diri saja untuk menjadi penolong terbaik.
Dan yang terakhir, sempurnakan diri untuk kita berpulang nanti di tempat yang abadi.
Bogor, 29 Mei 2015 11.15 p.m.

Kamis, 21 Mei 2015

Kepadamu Jika Aku Menang ataupun Kalah

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Kompetisi adalah ajang yang menjanjikan kemenangan dan kekalahan. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal yang lumrah. Ada pihak yang merasa bangga atas presatsinya yang disebut sebagai pemenang. Pihak yang lain bisa disebut juga pihak yang kalah. Selama ini persepsi yang diterima umum adalah seperti itu adanya.
Menang merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi yang meraihnya. Jarang sekali kita melihat orang bersedih atas kemenangannya. Kalaupun ada yang menangis, anggapan umum selama ini adalah itu yang disebut terharu. Terharu atas prestasi yang berhasil ditorehkan. 
Pada lain sisi, ada pihak yang mungkin (maaf) berada pada posisi kekalahan. Sedih mungkin sudah menjadi kepastian. Bahkan mereka sering menghibur dirinya dengan nyanyian yell yell pembangkit semangat. Tak jarang pula terselip kalimat menang sudah biasa kalah pun tak apa. Wah berjiwa besar sekali anda! Selain ungkapan penghibur, kita juga harus tahu bahwa ternyata memang masih ada yang lepas kendali. Istilah lainnya tidak menerima hasil kenyataan.
Padahal menang dan kalah adalah suatu hal yang berpasangan. Mereka ada untuk saling menjaga keseimbangan dan kesetimbangan. Menang dan kalah bukan suatu masalah besar. Menang dan kalah adalah soal hati dan persepsi.  Keduanya bersama dan tak pernah terpisahkan. Meskipun hidup berkesinambungan, tapi mereka berdamai. Meski banyak orang ricuh karena persoalan ini, tapi menang dan kalah adalah sahabat sejati.
Menang dan kalah adalah soal hati. Soal hati menerima ujian. Apakah kita bisa adil menyikapinya? Jangan salah, kemenangan adalah salah satu ujian, pertanda kita bersyukur atau malah takabur. Menjadikan kita sebagai ibarat padi yang semakin merunduk atau Cakil  yang selalu mendongakkan kepalanya. 
Kalah bukan berarti salah. Kalah bukan berarti lemah. Kalah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan mengerti apa arti dari bangkit. Sifat manusia lumrahnya begitu, perlu dihajar sampai jatuh dulu, baru tahu rasanya mencoba berdiri. Kalah adalah suatu persepsi bahwa ada kemenangan yang mungkin tersembunyi atau belum diberi. Mungkin juga suatu pertanda untuk kita mencari kemenangan yang dinanti.
Kalah itu bukan hal yang salah. Yang salah adalah mereka yang menyerah sebelum mau berusaha. Lesu sebelum tahu hasilnya. Pesimis di setiap langkahnya. Bosan di setiap aktivitasnya. Mencela pada ketaksukaannya. Maaf kalau kalimat ini terlalu teoritis. Hanya mengingatkan saja bahwa menyerah sebelum bertanding itu adalah kalah yang sesungguhnya. Kalah setelah pertandingan makna lainnya menang dalam segi menerima kenyataan apabila diterimanya kekalahan itu dengan lapang dada.
Hidup ini mengajarkan kita untuk selalu sportif dalam menjalankannya. Bukan hanya di pertandingan, tetapi juga di kehidupan nyata. Memainkan peran kehidupan dengan sebaik-baiknya dan selayaknya kita menjadi pemain. Menjadikan kita pemenang-pemenang yang sesungguhnya. Seperti saat kita dilahirkan, kita adalah pemenang dari jutaan sel lainnya. 
Oke, mulai sekarang ciptakan permainanmu dengan sebaik-baiknya. Mainkan peran dan bermainlah dengan adil dan sportif. Jadilah pemenang sejati!
Bogor, 21 Mei 2015 22.47 p.m.

Senin, 18 Mei 2015

Tentang : Aku yang sedang Belajar Cinta dan Peduli

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Hai Pejuang Indonesia!
Well kali ini boleh lah aku menyebut kita semua sebagai pejuang. Satu mimpiku berhasil terwujud. Berjuang merintis sebuah komunitas sosial, Taman Akar Rumput.
Jadi begini ceritanya, sekarang aku sedang menempuh studi di Departemen Statistika, Institut Pertanian Bogor. Sebuah kampus yang berbasis pertanian guna mempertahankan pangan Indonesia. Bayangkan, betapa besar tujuan didirikannya Institut ini. Menurut bapak Proklamator kita, Bung Karno pernah menuturkan bahwa Pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa. Bayangkan itu saudara-saudara!
Jujur, sebelum kakiku menginjakkan di kampus pertanian ini aku masih sangat acuh terhadap pertanian. Bahkan mungkin tidak tahu kalau seandainya soal pangan itu soal hidup mati. Aku pikir, lagipula bidang studi yang aku pelajari juga jauh dari pertanian. Yaps, Statistika adalah bagian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jadi aku berpikir, tak mengapa menuntut ilmu di kampus pertanian tapi konsentrasinya kan bukan di pertanian.
Jeng-jeng… Ternyata aku salah persepsi selama ini, bayangkan selama 18 tahun hidup tanpa peduli petanian. lebai dikit boleh lah yaa… Baru tersadar bahwa pertanian adalah hal fundamental suatu bangsa melebihi pembuatan Undang-undang, mungkin. Selama ini ke mana aja lo?? Karena seluruh manusia di suatu bangsa bahkan di seluruh dunia ini memerlukan makan untuk keberlangsungan hidupnya. Akhirnya sadar juga, soundtrack kemenangan :’)

to be continued
oke dilanjutkan nanti lagi, karena saya sedang praktikum mata kuliah basis data di lab komputer. sekian
Bogor, 19 Mei 2015

Minggu, 17 Mei 2015

Palawija itu Kita

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Dimulai dengan foto-foto kita kemarin ngebolang di Depok
Machine generated alternative text:

Machine generated alternative text:

Machine generated alternative text:
-
-.----- -.- —
•,..
..• .
qj
•1 “
AI
.....,
......
LLf ...
---
r
‘1

Machine generated alternative text:
/
J
! ¡
——....
..—...
- - ...
U————
- -. . — _.
‘w—.——
... . —.
I..———
I   w
•
• w... 
1.
— I
—- - -
--- - - -=--- -
; . —
-

Maaf ya, postingan yang sempat tertunda. Jadi, palawija kemarin sudah silaturahim ke Depok, tepatnya di Masjid Kubah Emas dan ke rumah Medina Putri.
Perjalanan kami dimulain dari kampus pukul 11 siang. Hanya aku sendiri yang tidak ikut bersama rombongan, aku berangkat dari Pondok Ranji, Tangsel. Yap tak masalah, kami berkumpul di stasiun terakhir Depok Baru.
Nice! Aku kehilangan rombongan! Dengan sok taunya jalan ke arah depan stasiun Depo Baru yang ada ITCnya. Dicari ke manapun tak ada satupun teman lurah yang diemui. Dan ternyata mereka menunggu di belakang stasiun, bukan depan (entahlah yang depan atau belakang itu mana, yang pasti arah aku dengan mereka berbeda).
Usai sholat dzuhur, kami pun akhirnya bertemu. Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Kubah Emas. Subhanallah, keren! Masjid Kubah Emas adalah masjid yang ingin aku kunjungi sejak dahulu masih SD, terpesona setelah membaca majalah Ummi milik Ibu. Di sana kami berwisata ruhani, sayangnya Palawija tidak lengkap hari itu. Nita Fridayani tidak ikut, dia sedang ke Dufan, huoho ceritanya wisata jasmani.
Kami hanya sebentar di Masjid Kubah Emas, adzan ashar berkumandang. Setelah shlat tahiyatul masjid dan sholat ashar berjamaah kami bergegas menuju rumah Medina Putri. Cukup naik 1 angkot kami sudah sampai di gang rumah Medina. Wow, ternyata dari gang menuju rumah Medina cukup jauh juga. Tapi tak apa, di sepanjang perjalanan kami bersenda gurau saling berceloteh. Menyatukan memori-memori bersama dahulu. Cukup mengobati rasa rindu. Sekarang pertemuan kami tak se-intensif dahulu kala menjadi lurah di asrama TPB. Namun silaturahim di antara kami masih terjaga walaupun pada kenyataannya ranah kami sudah jauh berbeda.
Akhirnya sampai juga di rumah Medina. Begitu banyak syukur dan kagum ketika kudapati rumah Medina dan neneknya itu ternyata memiliki Rumah Tahfidz Qur'an. Lokasinya di sebelah rumah Medina dan neneknya, masih satu pagar. Rumahnya unik, bahkan kita bisa melihat Sunset tepat di belakang rumah Medina yang dari belakang seperti rumah panggung.
Kami berkenalan dengan keluarga Medina, ayahnya kebetulan sedang di rumah, ibunya serta adik-adiknya, dan nenek kakeknya. Medina cukup dibilang keluarga besar, adiknya ada 6 atau 7, ia sendiri sulung sama sepertiku. Semangat sulung! Jadi contoh untuk adik-adik kita.
Rumah Medina hangat, walaupun hujan mengguyur sore itu. Rasa was-was tentu ada ketika kami harus pulang ke Bogor malam itu juga karena esok harinya kami harus melanjutkan aktivitas masing-masing di kampus. Kemudian, setelah sholat maghrib kami di antar ayah Medina sampai pemberhentian angkot menuju stasiun. Alhamdulillah, silaturahim ke rumah Medina pun terlaksana, walaupun agak merepotkan mereka jadinya. Terimakasih Medina.

Bogor, 14 April 2015
Machine generated alternative text:
--
f



Sabtu, 16 Mei 2015

Duka di Kala Senja

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Lagi, umur siapa yang tahu. Kuasa Allah lah yang telah mengatur segalanya. Sore ini ayah seorang sahabat kecil kami meninggal dunia. Beliau sudah kuanggap seperti saudara sendiri, re:pakdhe mungkin om.
Semasa hidupnya, beliau adalah orang yang sabar dan tekun. Sabar dalam menjalani kehidupannya. Tercermin dari cara beliau mengajar mata pelajaran Matematika SMP dahulu. Banyak hal yang beliau selalu tuturkan selama proses belajar berlangsung. Keteladanan yang selalu beliau contohkan kepada murid-muridnya, sholat tepat waktu, belajar, berbakti pada orang tua.
Beliau juga ayah dari sahabat ku dari kecil, Rosyid Imam Haqi. Kami berteman baik dari kecil, ada Imaz, Rosyid, juga Hanif. Aku kaget mendengar kabar itu tadi sore. Seolah aku merasakan pilunya sahabatku. Ya Allah, secepat ini kah? Rasanya belum sempat aku meminta maaf padanya. Masih sering merengek merepotkannya dari dahulu. Masih saja membangkang tiap kali diingatkan.
Adikku di rumah juga mengabarkan berita duka itu. Dalam hati, aku ingin pulang, ingin ikut meringankan kedukaan. Ingin rasanya berkumpul dengan sahabat-sahabat dan berkata bagi dukamu pada kami. Adikku berpesan agar tak mengabarkan berita pada yang lain, namun aku mendapatkan kabar ini dari grup alumni SMP. Adikku berkata, dek Ifah belum tau. Ya Allah, kuatkan kami. Dek Ifah adalah adik dari sahabat kami, seumuran dengan adikku dan karibnya juga dari kecil.
Bergegas aku menghubungi ibu, hanya memanggilnya via wa. Seolah ibu tahu kesedihanku. Padaku ibu berkata sedang bersiap-siap selepas isya' akan berangkat ke rumah sahabatku. Aku hanya menitipkan salam untuk istri almarhum, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Ingin sekali rasanya pulang, mengantarkan almarhum ke pusaranya.
Ya Allah terimalah amal baik Pak Budi Mulyatno, ampuni segala dosanya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu


Untukku, Imaz, Rosyid, Hanif, Dek Lya, Dek Ifah, Dek Rizal, Mas Kemal, Dek Kana. Berjanjilah untuk selalu menjadi putra putri yang solih solihah. Karenanya amal yang tiada putus untuk kedua orang tua kita.

Rabu, 13 Mei 2015

Guru Kehidupan

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Banyak harus kuucapkan syukur pada-Nya yang telah mempersilakan diri ini untuk leluasa menghirup oksigen tanpa batas di kota hujan ini. Melenggang menggenggam jutaan mimpi menuju nirwana yang siap aku terbangkan ketika aku mencapainya di atas. Pada-Nya aku menaruh berjuta syukur yang telah mempersilakan (lagi) diri ini untuk bersua dengan para calon pahlawan bangsa. Memperkenalkan aku akan dahsyatnya kehidupan luar yang mengajari apa itu arti kerelaan hingga pengorbanan.
Katanya, dunia luar itu kejam. Sekarang aku bisa mengatakan setelah aku merasakannya. Dunia luar itu sangat kejam, tajam melebihi tajamnya pisau yang kau asah setiap hari. Kejam bagi mereka yang mengurung jutaan mimpinya. Kejam bagi mereka yang tak mau menerima kenyataan dan mengeja apa itu rasa syukur. Kejam bagi mereka yang tak pernah mau berusaha untuk tetap di jalan yang benar.
Kehidupan ini mencotohkan bagaimana cara mengajari tanpa bertutur. Merpersilakan diri ini lagi untuk terus mengambil manfaat ilmu dari guru kehidupan. Membuat simbiosis yang tak pernah terlupakan sepanjang hayat.
Beridirinya aku di sini tak ada apa-apanya tanpa dukungan kalian ibu, bapak, maskemal, deklya, dekana.

Sejarah mengajariku banyak makna, termasuk sejarah hidupku sendiri. Terimakasih teman-teman kecilku, Faiz Mazdha Aufa dan Rosyid Imam Haqi, kalian lah yang mengajari arti teman untuk pertama kali di dunia ini. 
Keluarga besar SD 1 Secang, Pak Labib, Bu Endang, Bu Zul, Bu Siti, Pak Karno, Mbak Happy, Mbak Rina, Mbak Ais, Mbak Ifha, Mbak Atin, Mbak Alfi, Mbak Nauqi, Irene Putri, Yakub, Fergi, Akbar, dkk. Terimakasih atas karakter yang kalian bentuk terhadap diri ini selama tiga tahun pertama sekolah dasar. Membuat saya jadi disiplin waktu, membuang sampah pada tempatnya, hingga cara pandang untuk aku mendapatkan sesuatu, terimakasih. 
Temanku yang sekarang sudah berkeluarga, hidupmu mengajariku banyak makna arti keikhlasan, Dewi Purwaningsih. 
Temanku yang mengajariku akan kesederhanaan, Evi fariska. Aku bangga menjadi bagian dari sejarah hidupmu.
Teman-teman Laskar Gunung Berasan, Teater Sopo Ngiro, kalian yang mengajari apa arti bertahan di tengah alam bebas tempat kita bertualang dulu. Mengajariku akan pentingnya berperan terbaik di kehidupan ini.
Keluarga besar SD 1 Lamuk dan SMP 2 Kaliwiro. Kaian mengajariku bagaimana cara membuka mata kenyataan hidup di daerah yang mungkin angkot saja sekarang sudah tak ada. Tempat yang mengajari arti sebuah perjuangan dalam kesederhanaan.
Teman-teman pasukan berkerudung kelas X.5, Ihda, Arik, Wida, Eli, Firda. kalian mengajariku bagaimana hidup di kota yang baru saja aku singgahi. Keluar dari suasana hijaunya daerah tempat tinggalku dahulu.
Keluarga besar Kelompok Kajian Islam, Mbak Yoko, Mbak Fiya, Mbak Hani, Mbak Anita, Mbak Sami, Mbak Mumu, Dilla, Ar Ruum, Mbak Ummu, Intan, Firda, Fina, Erwin, Teteh, Wulan, Akhmat, Eko, Eko RD, Yogi. Tak lupa juga keluarga besar WISC dan PLC. Karena kalian mengajariku arti berhijrah yang sesungguhnya. 
Terimakasih untuk Sohibul Khoir, lingkaran hijrah selanjutnya. Mbak Nurha, Dilla, Erwin, Nana, Nudiya. 
Terimakasih Novik untuk dua tahun yang menjadi teman sebangku di Sepatu. Perjuangan dan sejarh hidupmu membuat karaktermu terbentuk seperti sekarang ini. Be Brave! Nenek, Kurnia Ika Pangesti terimakasih telah mengajariku banyak hal tentang hidup di sini, nenek yang memberi tahu kepanjangan dari prihatin, perih ing batin. Ya kita memang harus prihatin dulu sebelum merasakan seneng.
Untuk Rempongers, Novik, Vines, Cinthya, Mbak Atin, Lida, Dilla, Nana Needa, Nana Nadhila, Lani. Terimakasih untuk waktu kalian yang selalu ada buat kita semua, belajar, kongkow, cerita. Keep rempong! :) Makasih juga, karena kalian selalu boncengin aku di saat kita pergi ke mana-mana,
Terimakasih untuk keluarga besar Candradimuka Candrakirana, Prita, Nana, Nita, Dinta, Dilla, Bustomi, Faris, Lulut, Ganis, Dini, Mbak Atin, Lida, Novik, dkk. Perjuagan kita ditempa di gunung Ungaran dan kembali untuk korsa SMA 1 Wonosobo.
Keluarga besar Les Perles Arte, Tsani, Lida, Mbak Atin, Ibumb, Jodi, Agung, Ar Ruum, Mbak Ummu, Wida, Manda, Ria, Hilmi, Dini, Agis, Humam,  Kalian mengajariku bagaimana menjadi crew film amatir yang profesional. Yang mengagetkanku membawa film pertama kita ke kancah nasional.
Keluarga besar sepatu, terimakasih untuk 2 tahun yang luar biasa. Tak ada kelas lain yang ngalahin keluarga kita. 
Terimakasih semuanya, inilah gerbangku menuju kehidupan rantau, di kota hujan.
Terimakasih untuk Pakdhe Didik, Budhe Siti, Mas Adi, Mbak Asti, yang direpotkan keluarga kami saat pindahan menuju Bogor. 
A5 Sylvasari, mengawali petualanganku di kehidupan kampus hijau ini. Terimakasih Aris, Windi, Mega, Karimah, Vina, Sahara, Uput. Kalian mewarnai kehidupanku satu tahun di TPB. Love 222-223.
Terimakasih A5, Ummi, teteh, ceu Anis, ceu Pipeh, ceu Mila, ceu Uswah, ceu hepy, Emma, Melli, Fatimah, Dilla, Rizna, Indah, Eka, keluarga besar A5 2013-2014. Jaya di Rimba Wibawa di Kota. Terimakasih telah mengajariku banyak hal, ragam budaya karakter, menyatukan kepala, membuang ego, mendewasakan diri.
Untuk Laila, Muti, Ayu, Bintang, Resti, Nisa, Sri, Atqiya, Eka, Bu Nia. Kalian luar biasa, keep tawazun and istiqomah. Bertahan di jalan ini, :)
Terimakasih Bu Neneng yang udah membimbing kami, Nita, Mesay, Nida, Yeni, Inas, Lestari, Hana selama satu tahun pertama ini. 
Palawija, terimakasih telah bertemu kalian orang-orang keren, yang kadang bikin aku jadi minder karena aku tak sekeren kalian. Nita, Dwi, Medina, Mulya, Risko, Alik, Indra, Sonef. Masih berharap agar bisa sebanding kalian yang keren-keren.
OSOK, One Shoot One Kill atau apalah sekarang Gold Heroes namanya, Cholis, Mulya, Fenny, Fikri, Reza, Panji, Fathan, Arip, Zaki, terimakasih telah mengajariku bagaimana arti memahami, dipahami, profesionalitas, pentingnya menjadi diri sendiri, membuang ego pribadi, dan pentingnya arti memaklumi.
Komdis MPKMB 51. We are strong solid! di sini aku belajar tegar menghadapi seluruh keadaan dan seluruh beban di dalam diri. Menempa diri selama berbulan-bulan agar bisa menjadi teladan bagi seluruhnya.
Untuk Anput, teman seperjuangan di kosan, terimakasih telah mendengarkan semua keluh kesahku setiap hari. 
Teman-teman Pondok Bungsu, terimakasih telah memperkenankan aku belajar memahami kehidupan yang sebenarnya. Apa itu tujuan hidup hingga mempersiapkan kehidupan selanjutnya kelak. Terimakasih Ina (almarhumah), Manda, Anput, Rosita, Rizna, Eka, Alifah.
Terimakasih mbak Beqi, yang udah mau dengerin semua keluh kesah kami. Terimakasih teman-teman ketjeh, Nida, Nita, Mesay, Cholis, Yeni, Ade, Vani, Mbak Anik, Laila, Giga, Hana, Inas, Lesatri telah menjadi teman yang mengerti satu sama lain di kala senang maupun susah.
Terimakasih Pirates! Perfection of Gold Statistics! terimakasih untuk kebersamaannya selama ini, bantuannya di bidang akademik, keluarga di IPB ini. Semangat yang selalu tinggi untuk meraih hasil tinggi. Doakan aku agar bisa keren seperti kalian yang nilainya selalu tinggi. :)
Terimakasih keluarga TAR, Taman Akar Rumput. Sungguh mulai komunitas yang kalian bentuk ini. Ingin menumbuhkan cinta pertanian sedini mungkin terhadap anak negeri. Terimakasih, Cholis, Medin, Nita, Indah, Vani, Bila, Angga, Fikri, Kak Rizal, Zaid, Hammada, Adam, Kak Zein, Kak Haekal, Kak  Adit, Ojan, kak Robbi. Kalian mengajariku arti sebuah perjuangan dan keikhlasan.
Terimakasih untuk BEM FMIPA Kabinet Iridescent. Tempatku menempa diri di kehidupan fakultas ini. Terimakasih Kak Fajar, Kak Fahmi atas kesempatan yang diberikan. Terimakasih Kak Ocy, Kak Mega yang tak pernah bosan dengan celotehanku setiap hari. Terimakasih Desii teman seperjuangan di STK juga, kuharap kamu tak pernah bosan bertemu denganku dari awal masuk IPB ini. Terimakasih Iridescent  telah mempersilakan aku untuk mengenal orang-orang hebat yang ada di dalamnya, yang ingin aku sebutkan satu-satu. Izinkan aku bergabung tertawa bersama kalian hingga nanti. Belajar bersama memahami sebuah perjuangan.
Teman-teman Frozen, Fanta, ESS, Super, Fusi. Sigit, Elsa, Fikri, Henni, Reza, Kak Pupu, Kak Iben, Kak Fahmi, Mbak Atikah, Mbak Iin, Kak Baim. Terimakasih telah mengajarkan aku menjadi manusia baik, walaupun aku tak pernah bisa sebaik kalian.
Buat Mbak Husna, yang besok bakal jadi teman kosan, terimakasih udah memahami aku yang sering random ini.
Adik adik asistensi, Rizka, Endah, Elsa, Nurul, Dewi, Sita. Terimakasih telah menguatkan kakak. Semangat yang tiada henti.
Terimakasih semuanya, yang tak bisa kesubt satu-satu namanya. Terimakasih telah menjadi guru dalam hidupku.

Analogi Keluarga Burung

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Tatkala ku dengar kicauan keluarga burung. Suaranya begitu merdu dan indah, bak keluarga harmonis melepas semua resah. Kulihat dari kejauhan sang ibu dan ayah burung membawa makanan kecil untuk ketiga putra-putrinya. Hatiku berbisik perlahan, semoga kebahagiaan mereka dapat abadi sepanjang masa.
Seperti itu juga yang aku harapkan. Bersama keluarga kecil, keluarga baru, saudara baru di tanah rantau. Menemukan lingkaran baru, bersatu padu pada asa yang satu. Mampukah aku? Mungkin sedikit ragu.
Aku sama seperti burung-burung itu yang pergi tak membawa sesuatu. Aku tak punya apapun. Tak ada sesuatu yang layak aku bawa pergi dan kubagi. Tak pernah kumiliki berbagai keahlian istimewa selama ini. 
Satu yang kutahu, hanya kemauan yang kumiliki. Kemauan untuk berubah, berhijrah. Sama seperti burung-burung itu, berbekal keinginan memberi makan pada buah hatinya. Setiap sore mereka berhasil membawakan putra putrinya makanan untuk kebutuhannya. 
Tak lebih dari itu, aku hanya ingin berbagi atas apa yang baru saja kudapat. Bahwasanya aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Sesungguhnya raga, pikiran, jiwa ini hanyalah milik-Nya lah yang patut kita jaga. Apa yang aku cari itulah yang akan kuberi, karena sesungguhnya aku tak mau sendiri di jalan ini.

EVALUASI BELAJAR BERSAMA

Diposting oleh taranurfathiw 0 komentar
Pendidikan merupakan salah satu indikator penting maju mundurnya sebuah Bangsa.
Mulai tahun 2015 ini, Ujian Nasional yang biasa kita sebut UN sudah tidak lagi menjadi syarat utama penentu kelulusan. Berbeda dengan dua tahun silam, saat kami siswa kelas  12 berjuang keras menghadapi UN. Ketika itu UN masih menjadi syarat untuk kami lulus dari dunia sekolah. Ingatkah, dua tahun silam kami menghadapi sistem baru di UN? Why? Untuk pertama kalinya menerapkan 30 paket soal UN tersebar acak. Jika satu ruangan ujian hanya berisi 20 peserta, maka belum tentu soal di kelas A juga berada di  soal kelas B.
Tentu ada hal positif yang dapat kita ambil dari sitem ini. Karakter. Mengapa? Tentu akan menjadi upaya untuk meminimalisir kecurangan dan meningkatkan kejujuran. Sebuah kalimat sebelumnya tentu sangat mengusik nurani jika melihat kondisi nyata yang saat ini sedang terjadi. Kalimat terebut menurut opini pribadi diri ini hanya akan berlaku apabila parameter seluruh keadaan memiliki ragam yang nyari nol-red keadaan pemerataan pendidikan di Indonesia.
Back to the Ujian Nasional, Ujian kali ini bukan menjadi titik tentu keulusan-red yang saya tangkap dari media masa yang saya ikuti. Mungkin ada sebagian orang yang setuju dengan cara ini dan sebagian lainnya tidak, bahkan ada memilih tidak mengambil hak setuju maupun tidak setuju.
Bukan masalah setuju atau tidak setuju terkait perubahan sistem ini. Bagi saya pribadi Ujian Nasional adalah saatnya kita semua melakukan evaluasi. Siapa yang harus dievaluasi? Ya pendidikan itu sendiri. Bukan hanya mengevaluasi belajar siswa yang telah dijalankannya dengan-red rajin, ungguh-sungguh, maupun terpaksa-namun juga mengevaluasi jalannya pendidikan itu sendiri. Tentang bagaimana pemerataan pendidikan di sebuah negeri, kualitas pengajaran, dan daya tangkap dari seluruh peserta didik, hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Semuanya harus ada evaluasinya.
Melalui hasil Ujian Nasional tentu kita dapat mengetahui seberapa efektif pemerataan pendidikan yang telah dijalani. Seberapa besar kualitas pendidikan dari Sabang sampai ujung Merauke. Apakah keragamannya mendekati nilai nol? Itu yang menjadi catatan besar bagi kita.
Jika ada suatu usaha untuk memperbaiki suatu kesalahan, maka diperlukan evaluasi dari setiap usaha itu sendiri agar hasil terbaik yang akan kita dapatkan. Sudah saatnya kita berbenah diri bersama. Maju bersama, melangkah bersama, bersatu untuk semua. Mereka yang tinggal di ibukota, di daerah, di pulau terpencil memliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Bukan berarti mereka yang berasal dari daerah tak bisa bersaing di ibukota. Mungkin terdapat jutaan mutiara hitam di pelosok negeri yang belum tergosok.
Bogor, 29 April 2015
 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review