Kamis, 13 November 2014

Bagian Kecil dari Laskar Gunung Berasan

Diposting oleh taranurfathiw
Aku mengakuinya, aku anak desa. Aku tumbuh jauh sekali dari hiruk pikuk jalanan kota. Setiap hari aku bebas menghirup udara bersih tanpa terkontaminasi polusi kendaraan. Alam menyuguhiku dedaunan hijau yang tumbuh subur di depan kediaman orang tuaku. Kicau burung yang mengalun acap kali kubuka jendela kamar kala itu. Hamparan sawah yang terbentang luas tak jauh dari tempat tinggalku. Bukit-bukit yang menjulang melambai seolah mengajakku untuk sesekali menyambanginya. Membuatku untuk terus mengucap syukur yang mungkin terlupa kala itu.
Dalam kurun waktu kurang lebih 12 tahun aku bersahabat dengan alam di sebuah desa kecil, Lamuk namanya. Tinggal di bawah kaki gunung berasan dan menyatu dengan alam sekitar. Aku pun tak tahu, setiap kali ada yang bertanya kenapa bisa aku tinggal di desa yang jauh seperti itu. "Hanya ikut orang tua saja", jawabku kala itu. Memang benar, tugasku hanyalah ikut orang tuaku di manapun mereka tinggal. Ayahku 5 tahun lebih awal sebelum aku dilahirkan sudah menginjakkan kaki di desa itu, tepatnya ketika belum sah memperistri ibu. Ayah dan Ibu adalah dua insan yang dahulunya bertetangga di Secang, Magelang. Kemudian mereka pindah rumah di desa Lamuk, Kaliwiro, Wonosobo. Sebuah desa yang sempat membuat ibuku kaget untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sana ketika pertengahan tahun 1994. Dengan kondisi medannya dan keadaan yang belum teraliri arus listrik kala itu.
Mungkin ayah sebagian kecil yang ditugaskan menjadi agen perubahan di desa itu. Pikiran yang agaknya berlebihan ketika aku berpikir kembali, kenapa aku harus tinggal di desa ini? Lagi-lagi pikiran nakalku selalu bertanya seperti itu. Apalagi keliaranku semakin menjadi setelah aku merasakan dunia pendidikan sekolah dasar tiga tahun pertama di rumah kakek dan nenekku. Merasakan berjuang merebut bangku sekolah dasar yang sulit didapat apalagi dengan umurku yang jauh masih kurang saat itu. Bersaing dengan anak-anak terpilih dari berbagai desa di keamatan Secang itu. Tiga tahun berpisah dengan orang tua membuatku merasakan rindu tinggal bersama mereka. Kelas 4 terkabul permintaanku untuk kembali berkumpul dengan ayah dan ibu. Namun, aku masih berpikir, aku masih harus tinggal di desa itu lagi.
Tinggal di desa itu, ada yang terasa jauh sekali perbedaannya. Dari segi struktur alam sampai struktur sosial teman-temanku di sekolah dasar. Dulu sempat ada sedikit sesal, ketika tak lagi bertemu dengan teman-teman di Secang. Kemudian aku harus bergabung lagi dengan teman-temanku di desa. Menjalani rutinitasku seperti dahulu di desa itu. Bergaul dengan teman-teman kecilku dahulu, membentuk sebuah kelompok sosial yang baru. Ada hal yang teramat aku senangi ketika itu, aku bisa bebas bermain di alam sesuka hatiku. Hal yang tak pernah bisa kulakukan ketika masih di Secang. Aku bebas mendaki gunung, melintasi sawah, masuk keluar hutan, berenang di sungai, sip mirip banget sama bolang yang ada di tv dulu. Bahkan sempat aku berharap ada crew "Si Bolang" mampir ke SDku.
Aku "terperangkap" di desa itu sampai aku lulus SMP. Kemudian kami pindah rumah di dekat SMA tempat aku sekolah. Kebetulan ayah pindah tugas dan setelah dipikir memang lebih hemat ketika kami sekeluarga pindah daripada aku haru kos dan berpisah lagi dengan orang tuaku. Kemudian kami mulai bersosialisasi lagi dengan lingkungan yang baru.
Ada hal lain yang jelas terasa, yang membuatku berpikir keras. Bukan tanpa alasan apa-apa Allah mengizinkan aku, adik-adikku, ayah, ibu tinggal di desa. Banyak pelajaran yang aku ambil dari setiap prosesnya. Dan mungkin setelah pindah rumah inilah aku baru menyadarinya. Aku belajar arti kesederhanaan dari orang-orang yang itnggal di sana. Aku belajar arti keprihatinan tinggal di sana. Aku belajar bersyukur dengan semua yang dimiliki. Aku belajar untuk hidup mandiri tanpa harus mengenal kata manja. Aku harus bertahan di saat aku jenuh sekali. Aku belajar merawat alam, menikmati, dan mensyukurinya. Dari itu semua sedikit demi sedikit aku paham proses hidup ini berjalan.
Ah, kenapa baru sekarang aku menyadarinya?

0 komentar:

Posting Komentar

 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review