Membuka file lama itu ibarat berjalan dalam lorong waktu.
Berjuta kenangan dalam seluruh peristiwa tersibak di dalamnya. Aku
menemukannya, file itu, ya file dokumen word untuk ayahku. Ketika kubaca,
kurasakan desiran darah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Surat 2 lembar
sebagai penguat argumentasiku untuk jihad ilmi di Institut Pertanian ini. Ada
getar semangat dalam katanya, ada secercah impian dan harapan yang harus segera
terwujud. Ini merupakan langkah awalku meraih kesuksesan.
Teringat suatu malam, isakkan tangis itu menemani jemari
menari dalam menerangkan seluruh isi hati. Hati kecilpun berharap seluruhnya
bisa terwakilkan dalam surat itu. Tulisan itu menjadi wakil ekspresi yang
merangkum seluruh harapan, angan, dan cita-cita. Rasa was-was itu pasti, namun
ini adalah bagian dari usaha. Kini hampir satu tahun sudah diri ini menggenggam
berjuta harapan, amanah orang tua sebagai konsekuensi dari apa yang telah
terpilih.
Berjuang membawa harapan, berusaha untuk mewujudkannya. Aku
sulung dari 4 bersaudara, harapan itu pasti tertuju padaku sebelum adik-adikku
beranjak dewasa. Semangat itu bagai air laut, kalau tidak pasang mungkin sedang
surut. Pada intinya aku harus sadar diri, memahami siklus diri ini. Kapan saatnya
harus menanggapi semangat yang kadang mungkin lebay, atau bagaimana harus mengisi ulang semangat ketika stok
semangat sedang low. Oleh karena itu,
sering-sering luruskan niat, ingat apa tujuan awalnya. Jangan pernah putus asa,
Man Jadda wa Jadda!!!


0 komentar:
Posting Komentar