Salam airmata, negeri tercinta
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini.
Mendengar desau suara darah yang sama, menyayat-nyayat
cakrawala abu.
Siapakah yang membakar asa dan cinta yang dulu setia kita
pelihara?
Sementara secara tiba-tibakita gadaikan kemanusiaan kita
pada sesuatuyang bernama kebiadaban
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini.
Menyaksikan jutaan jiwamengigau dan mencabk-cabik saudara
sendiri, sementara jutaan jiwa lainnya jadi pengungsi jeri. Mereka makan
lapaar, mereka minum haus.
Darah, airmata mereka tumpah, menjelma sungai-sungai perih
di sepanjang sejarah.
Aku memeluk merah putih, berdiri di sini, menatap para
pemimpin tercintaku.
Kini kata-kata mereka hampir angin.
Mereka cari nurani di balik kursi.
Aku bertanya-tanya, apa mereka tahu di mana menempatkan
Tuhan dan rakyat dalam diri serta diskusi-diskusi itu.
Bisakah mereka istirah dari perseteruan, karena waktu telah
semakin debu. Kota-kota berteriak parau, merdeka!
Masih kupeluk merah putihku, berdiri di sini.
O, para ulama, mata air kesejukan kami, yang menatap dengan
mata langit.
Dari hati yang khusyudan mulut mereka akan keluar mutiara
yang bercahaya.
Tapi ayat-ayat telah dibakar dalam tanah air yang api.
Mereka menangis, airmatanya menjelma curah hujan di
pekarangan negeri.
Lantas samar mata nyeriku melihat orang-orang kabut bergentayangan.
Tak ada tanda sujud, tiada izzah, tetapi mereka kenakan
jubah ulama kami.
Aku pun tetap berdiri di sini, masih memeluk merah putih.
Kutatap mata hitam para kanak-kanakdi pengungsiankumuh dan
kutemukan diriku terhempas dalam lalu.
Kembali pada masa kecil yang binar di negeri damai.
Hati-hati berpelukan, bertebaran senyum, uluran tangan,
hasil tanah melimpah.
Kebahagiaan seperti kupu-kupu yang kembara di taman-taman
kasih.
Salam cinta negeriku airmataku, salam airmata negeriku
cintaku.
Kini di atas puing-puing luka yang meningg, sambil
berdirimemeluk merah putih, kutepis kemungkinan pergi.
Tak akan ada perpisahan itu.
Suatu hari jiwa akan mencerahkan segala yang telah darah.
Jutaan tekad, daya dan doa akan membelai, mengusap wajah duka.
Dan para pemimpin, para ulama, rakyat yang lara, kita akan tumbuh dewasa
disebabkan hikmah. Entah kapan, kuharap kita segera kembali dari
pengunsianpanjang yang melelahkan ini. Membangkitkan negeri cinta kita sekali
lagi, sambil tak henti berzikir.
Bunda Helvy Tiana Rosa 2001


0 komentar:
Posting Komentar