Ramadhan ini mungkin menjadi
momen ramadhan yang berkesan. Ramadhan yang mengajarkanku banyak hal. Hening,
tangis, tawa, canda, duka... Mungkin alur kehidupan ini memang harus seperti
itu. Mungkin aku saja yang tak bisa bijak dalam menyikapi itu. Atau mungkin
saking batunya saja diri ini.
Di sudut hening malam itu,
kurasakan sedikit memar dalam hati ini. Allahu Akbar Allahu Akbaar Allahu
Akbar, takbir yang kusebut dalam hati itu menyatu dalam kedukaan yang begitu
mendalam. Menguatkan hati, menguatkan jiwa, dan menguatkan raga. Allah,
ketentuan-Mu pasti, aku tak bisa mengelak lagi hal itu. Waktu yang bergulir ini
bagai jeda yang membuat diri ini sulit untuk memahami.
Allah, aku rindu pada-Mu, inikah
awal jalan saat-saat menghadap-Mu? Ketika kematian adalah suatu hal pasti yang
telah tercatat di Lauhul Mahfuz sana. Tinggal kita yang memilih, melalui pintu
mana kita menghadap-Nya kelak. Allah, salahkah jika air mata yang kembali
hanyut di kala hati ini sendiri? Bukan karena aku tak dapat mengikhlaskannya,
namun ada penyesalan dalam aliran air mata itu.
Lagi-lagi aku merasakannya hingga
detik ini. Waktu yang bergulir terasa bagai jeda, membuat hening yang tercipta
untuk berpikir. Ramadhan ini, semoga menjadikan kita pribadi yang lebih kuat
dari sebelumnya, pribadi yang senantiasa bisa memperbaiki dirinya sendiri.
Peristiwa ini semoga menjadi pelajaran yang berarti pada kehidupan kita.
Mengajarkan kita bagaimana hakikat ikhlas itu teraplikasikan sebagaimana
mestinya. Mengajarkan kita pada pengorbanan yang sesungguhnya.
Hening ini lagi-lagi terasa,
menyayat dalam hati yang terdalam. Begitu kecilnya raga ini, begitu rapuhnya
jiwa ini. Kuakui berkali-kali aku menerawang jauh dalam sudut pikiranku ketika
mengetikkan kata per kata ini. Entah apa yang sedang kucari, sayyidul istighfar
yang kuucap menemani dalam keheningan malam ini.
Wonosobo, 2 Agustus 2014
~Bogor, 17 juli 2014


0 komentar:
Posting Komentar