Rabu, 13 Mei 2015

EVALUASI BELAJAR BERSAMA

Diposting oleh taranurfathiw
Pendidikan merupakan salah satu indikator penting maju mundurnya sebuah Bangsa.
Mulai tahun 2015 ini, Ujian Nasional yang biasa kita sebut UN sudah tidak lagi menjadi syarat utama penentu kelulusan. Berbeda dengan dua tahun silam, saat kami siswa kelas  12 berjuang keras menghadapi UN. Ketika itu UN masih menjadi syarat untuk kami lulus dari dunia sekolah. Ingatkah, dua tahun silam kami menghadapi sistem baru di UN? Why? Untuk pertama kalinya menerapkan 30 paket soal UN tersebar acak. Jika satu ruangan ujian hanya berisi 20 peserta, maka belum tentu soal di kelas A juga berada di  soal kelas B.
Tentu ada hal positif yang dapat kita ambil dari sitem ini. Karakter. Mengapa? Tentu akan menjadi upaya untuk meminimalisir kecurangan dan meningkatkan kejujuran. Sebuah kalimat sebelumnya tentu sangat mengusik nurani jika melihat kondisi nyata yang saat ini sedang terjadi. Kalimat terebut menurut opini pribadi diri ini hanya akan berlaku apabila parameter seluruh keadaan memiliki ragam yang nyari nol-red keadaan pemerataan pendidikan di Indonesia.
Back to the Ujian Nasional, Ujian kali ini bukan menjadi titik tentu keulusan-red yang saya tangkap dari media masa yang saya ikuti. Mungkin ada sebagian orang yang setuju dengan cara ini dan sebagian lainnya tidak, bahkan ada memilih tidak mengambil hak setuju maupun tidak setuju.
Bukan masalah setuju atau tidak setuju terkait perubahan sistem ini. Bagi saya pribadi Ujian Nasional adalah saatnya kita semua melakukan evaluasi. Siapa yang harus dievaluasi? Ya pendidikan itu sendiri. Bukan hanya mengevaluasi belajar siswa yang telah dijalankannya dengan-red rajin, ungguh-sungguh, maupun terpaksa-namun juga mengevaluasi jalannya pendidikan itu sendiri. Tentang bagaimana pemerataan pendidikan di sebuah negeri, kualitas pengajaran, dan daya tangkap dari seluruh peserta didik, hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Semuanya harus ada evaluasinya.
Melalui hasil Ujian Nasional tentu kita dapat mengetahui seberapa efektif pemerataan pendidikan yang telah dijalani. Seberapa besar kualitas pendidikan dari Sabang sampai ujung Merauke. Apakah keragamannya mendekati nilai nol? Itu yang menjadi catatan besar bagi kita.
Jika ada suatu usaha untuk memperbaiki suatu kesalahan, maka diperlukan evaluasi dari setiap usaha itu sendiri agar hasil terbaik yang akan kita dapatkan. Sudah saatnya kita berbenah diri bersama. Maju bersama, melangkah bersama, bersatu untuk semua. Mereka yang tinggal di ibukota, di daerah, di pulau terpencil memliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Bukan berarti mereka yang berasal dari daerah tak bisa bersaing di ibukota. Mungkin terdapat jutaan mutiara hitam di pelosok negeri yang belum tergosok.
Bogor, 29 April 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review