Dimulai dengan foto-foto kita
kemarin ngebolang di Depok




Maaf ya, postingan yang sempat
tertunda. Jadi, palawija kemarin sudah silaturahim ke Depok, tepatnya di Masjid
Kubah Emas dan ke rumah Medina Putri.
Perjalanan kami dimulain dari
kampus pukul 11 siang. Hanya aku sendiri yang tidak ikut bersama rombongan, aku
berangkat dari Pondok Ranji, Tangsel. Yap tak masalah, kami berkumpul di
stasiun terakhir Depok Baru.
Nice! Aku kehilangan rombongan!
Dengan sok taunya jalan ke arah depan stasiun Depo Baru yang ada ITCnya. Dicari
ke manapun tak ada satupun teman lurah yang diemui. Dan ternyata mereka
menunggu di belakang stasiun, bukan depan (entahlah yang depan atau belakang
itu mana, yang pasti arah aku dengan mereka berbeda).
Usai sholat dzuhur, kami pun
akhirnya bertemu. Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Kubah Emas. Subhanallah,
keren! Masjid Kubah Emas adalah masjid yang ingin aku kunjungi sejak dahulu
masih SD, terpesona setelah membaca majalah Ummi milik Ibu. Di sana kami
berwisata ruhani, sayangnya Palawija tidak lengkap hari itu. Nita Fridayani
tidak ikut, dia sedang ke Dufan, huoho ceritanya wisata jasmani.
Kami hanya sebentar di Masjid
Kubah Emas, adzan ashar berkumandang. Setelah shlat tahiyatul masjid dan sholat
ashar berjamaah kami bergegas menuju rumah Medina Putri. Cukup naik 1 angkot
kami sudah sampai di gang rumah Medina. Wow, ternyata dari gang menuju rumah
Medina cukup jauh juga. Tapi tak apa, di sepanjang perjalanan kami bersenda
gurau saling berceloteh. Menyatukan memori-memori bersama dahulu. Cukup
mengobati rasa rindu. Sekarang pertemuan kami tak se-intensif dahulu kala
menjadi lurah di asrama TPB. Namun silaturahim di antara kami masih terjaga
walaupun pada kenyataannya ranah kami sudah jauh berbeda.
Akhirnya sampai juga di rumah
Medina. Begitu banyak syukur dan kagum ketika kudapati rumah Medina dan
neneknya itu ternyata memiliki Rumah Tahfidz Qur'an. Lokasinya di sebelah rumah
Medina dan neneknya, masih satu pagar. Rumahnya unik, bahkan kita bisa melihat
Sunset tepat di belakang rumah Medina yang dari belakang seperti rumah
panggung.
Kami berkenalan dengan keluarga
Medina, ayahnya kebetulan sedang di rumah, ibunya serta adik-adiknya, dan nenek
kakeknya. Medina cukup dibilang keluarga besar, adiknya ada 6 atau 7, ia
sendiri sulung sama sepertiku. Semangat sulung! Jadi contoh untuk adik-adik
kita.
Rumah Medina hangat, walaupun
hujan mengguyur sore itu. Rasa was-was tentu ada ketika kami harus pulang ke
Bogor malam itu juga karena esok harinya kami harus melanjutkan aktivitas masing-masing
di kampus. Kemudian, setelah sholat maghrib kami di antar ayah Medina sampai
pemberhentian angkot menuju stasiun. Alhamdulillah, silaturahim ke rumah Medina
pun terlaksana, walaupun agak merepotkan mereka jadinya. Terimakasih Medina.
Bogor, 14 April 2015



0 komentar:
Posting Komentar