Minggu, 17 Mei 2015

Palawija itu Kita

Diposting oleh taranurfathiw
Dimulai dengan foto-foto kita kemarin ngebolang di Depok
Machine generated alternative text:

Machine generated alternative text:

Machine generated alternative text:
-
-.----- -.- —
•,..
..• .
qj
•1 “
AI
.....,
......
LLf ...
---
r
‘1

Machine generated alternative text:
/
J
! ¡
——....
..—...
- - ...
U————
- -. . — _.
‘w—.——
... . —.
I..———
I   w
•
• w... 
1.
— I
—- - -
--- - - -=--- -
; . —
-

Maaf ya, postingan yang sempat tertunda. Jadi, palawija kemarin sudah silaturahim ke Depok, tepatnya di Masjid Kubah Emas dan ke rumah Medina Putri.
Perjalanan kami dimulain dari kampus pukul 11 siang. Hanya aku sendiri yang tidak ikut bersama rombongan, aku berangkat dari Pondok Ranji, Tangsel. Yap tak masalah, kami berkumpul di stasiun terakhir Depok Baru.
Nice! Aku kehilangan rombongan! Dengan sok taunya jalan ke arah depan stasiun Depo Baru yang ada ITCnya. Dicari ke manapun tak ada satupun teman lurah yang diemui. Dan ternyata mereka menunggu di belakang stasiun, bukan depan (entahlah yang depan atau belakang itu mana, yang pasti arah aku dengan mereka berbeda).
Usai sholat dzuhur, kami pun akhirnya bertemu. Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Kubah Emas. Subhanallah, keren! Masjid Kubah Emas adalah masjid yang ingin aku kunjungi sejak dahulu masih SD, terpesona setelah membaca majalah Ummi milik Ibu. Di sana kami berwisata ruhani, sayangnya Palawija tidak lengkap hari itu. Nita Fridayani tidak ikut, dia sedang ke Dufan, huoho ceritanya wisata jasmani.
Kami hanya sebentar di Masjid Kubah Emas, adzan ashar berkumandang. Setelah shlat tahiyatul masjid dan sholat ashar berjamaah kami bergegas menuju rumah Medina Putri. Cukup naik 1 angkot kami sudah sampai di gang rumah Medina. Wow, ternyata dari gang menuju rumah Medina cukup jauh juga. Tapi tak apa, di sepanjang perjalanan kami bersenda gurau saling berceloteh. Menyatukan memori-memori bersama dahulu. Cukup mengobati rasa rindu. Sekarang pertemuan kami tak se-intensif dahulu kala menjadi lurah di asrama TPB. Namun silaturahim di antara kami masih terjaga walaupun pada kenyataannya ranah kami sudah jauh berbeda.
Akhirnya sampai juga di rumah Medina. Begitu banyak syukur dan kagum ketika kudapati rumah Medina dan neneknya itu ternyata memiliki Rumah Tahfidz Qur'an. Lokasinya di sebelah rumah Medina dan neneknya, masih satu pagar. Rumahnya unik, bahkan kita bisa melihat Sunset tepat di belakang rumah Medina yang dari belakang seperti rumah panggung.
Kami berkenalan dengan keluarga Medina, ayahnya kebetulan sedang di rumah, ibunya serta adik-adiknya, dan nenek kakeknya. Medina cukup dibilang keluarga besar, adiknya ada 6 atau 7, ia sendiri sulung sama sepertiku. Semangat sulung! Jadi contoh untuk adik-adik kita.
Rumah Medina hangat, walaupun hujan mengguyur sore itu. Rasa was-was tentu ada ketika kami harus pulang ke Bogor malam itu juga karena esok harinya kami harus melanjutkan aktivitas masing-masing di kampus. Kemudian, setelah sholat maghrib kami di antar ayah Medina sampai pemberhentian angkot menuju stasiun. Alhamdulillah, silaturahim ke rumah Medina pun terlaksana, walaupun agak merepotkan mereka jadinya. Terimakasih Medina.

Bogor, 14 April 2015
Machine generated alternative text:
--
f



0 komentar:

Posting Komentar

 

When story can speak Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review